Fenotip F2 Persilangan Monohibrida

Bimbel Jakarta Timur BJTV.eu
By -
0

 

Perbandingan Fenotip F2 Persilangan Monohibrida





Sahabat Berita Info, Dalam persilangan monohibrida, F2 (generasi kedua) muncul setelah persilangan antara dua individu F1 (generasi pertama) yang memiliki perbedaan dalam satu karakteristik tunggal. Untuk menentukan perbandingan fenotip F2, kita perlu memahami prinsip pewarisan genetik dan hukum-hukum Mendel.

Hukum Mendel Pertama, juga dikenal sebagai hukum segregasi, menyatakan bahwa dalam persilangan monohibrida, sepasang alel pada lokus yang sama akan terpisah satu sama lain dan diturunkan secara acak ke generasi berikutnya.

Jika kita asumsikan ada alel dominan (A) dan alel resesif (a) untuk karakteristik yang kita amati, kita bisa melihat perbandingan fenotip yang mungkin dalam F2 dengan menggunakan segiempat Punnett. Perhatikan bahwa A melambangkan alel dominan, sementara a melambangkan alel resesif.

Dalam genetika, persilangan monohibrida adalah persilangan antara dua organisme yang berbeda dalam satu karakteristik tunggal. Dalam persilangan ini, kita dapat melihat perbandingan fenotip F2 yang muncul setelah persilangan F1. Blog ini akan membahas secara rinci perbandingan fenotip F2 dalam persilangan monohibrida, termasuk penjelasan tentang konsep genetika dasar yang terlibat dalam persilangan ini.

Section 1: Pengenalan Persilangan Monohibrida

Persilangan monohibrida adalah metode dalam genetika untuk mempelajari pewarisan sifat tunggal dari kedua orangtua. Dalam persilangan ini, kedua orangtua memiliki alel yang berbeda untuk satu karakteristik tunggal. Alel adalah variasi dari gen yang mengkodekan sifat-sifat tertentu. Misalnya, dalam persilangan monohibrida untuk warna bunga, satu orangtua memiliki alel dominan untuk warna merah (R) dan yang lainnya memiliki alel resesif untuk warna putih (r).

Section 2: Pewarisan Genetik dalam Persilangan Monohibrida

Pada persilangan monohibrida, genotipe F1 akan memiliki alel dominan dari salah satu orangtua dan alel resesif dari orangtua lainnya. Misalnya, jika kita mengasumsikan bahwa alel dominan (R) adalah merah dan alel resesif (r) adalah putih, maka genotipe F1 akan menjadi Rr. Namun, hanya fenotip yang tampak pada individu, sehingga pada F1 semua individu akan memiliki warna bunga merah.

Section 3: Perbandingan Fenotip F2 dalam Persilangan Monohibrida

Setelah persilangan F1, kita dapat mengamati perbandingan fenotip F2. Fenotip adalah manifestasi fisik dari genotip dan dapat diamati melalui karakteristik eksternal organisme. Dalam persilangan monohibrida, perbandingan fenotip F2 akan mengikuti pola klasik 3:1.

Misalnya, jika kita melanjutkan contoh warna bunga, dalam F2 kita akan melihat tiga individu dengan fenotip merah (RR, Rr) dan satu individu dengan fenotip putih (rr). Ini sesuai dengan perbandingan 3:1 di mana tiga individu memiliki fenotip dominan dan satu individu memiliki fenotip resesif.

Misalnya, jika kita menilai karakteristik warna bunga dengan alel dominan (A) yang menghasilkan bunga merah dan alel resesif (a) yang menghasilkan bunga putih, berikut adalah perbandingan fenotip yang mungkin dalam F2:
  1. Homozigot dominan (AA): Individu yang membawa dua alel dominan akan menunjukkan fenotip bunga merah.
  2. Homozigot resesif (aa): Individu yang membawa dua alel resesif akan menunjukkan fenotip bunga putih.
  3. Heterozigot (Aa): Individu yang membawa satu alel dominan dan satu alel resesif akan menunjukkan fenotip bunga merah. Alel dominan akan menutupi efek alel resesif.

Perbandingan fenotip yang mungkin dalam F2 dapat dinyatakan sebagai perbandingan 1:2:1. Ini berarti bahwa sekitar 1/4 (25%) dari individu F2 akan menunjukkan fenotip bunga merah homozigot dominan (AA), sekitar 1/4 (25%) akan menunjukkan fenotip bunga putih homozigot resesif (aa), dan sekitar 1/2 (50%) akan menunjukkan fenotip bunga merah heterozigot (Aa).

Namun, perbandingan fenotip yang mungkin dalam F2 akan berbeda tergantung pada jenis karakteristik dan alel yang terlibat dalam persilangan monohibrida tersebut. Oleh karena itu, pastikan untuk mengganti alel dominan dan resesif dengan karakteristik yang sesuai dalam contoh di atas untuk mendapatkan perbandingan fenotip yang akurat.

Section 4: Penjelasan Mendel’s Law of Segregation

Hukum Segregasi Mendel menjelaskan bagaimana alel-alel yang berpasangan dipisahkan selama pembentukan sel kelamin. Dalam persilangan monohibrida, hukum segregasi berarti bahwa alel-alel yang berbeda untuk karakteristik tunggal akan dipisahkan selama pembentukan sel kelamin pada individu F1.

Dalam contoh warna bunga, selama pembentukan sel kelamin pada individu F1 (Rr), alel R dan alel r akan dipisahkan menjadi sel-sel kelamin yang berbeda. Oleh karena itu, ketika persilangan F1 bereproduksi menjadi F2, ada kemungkinan kombinasi genotipe RR, Rr, dan rr.

Section 5: Penjelasan Mendel’s Law of Independent Assortment

Hukum Assortment Mandiri Mendel menjelaskan bagaimana alel-alel dari dua karakteristik yang berbeda dapat mengasosiasikan secara bebas saat membentuk gamet. Ini berarti bahwa pembagian alel untuk satu karakteristik tidak mempengaruhi pembagian alel untuk karakteristik lainnya.

Dalam persilangan monohibrida, hukum assortmen mandiri berarti bahwa warna bunga tidak berkaitan dengan karakteristik lainnya seperti tinggi tanaman atau bentuk daun. Jadi, ketika kita melihat perbandingan fenotip F2 dalam persilangan monohibrida, kita hanya fokus pada karakteristik tunggal yang sedang dipelajari.

Section 6: Penjelasan Mengapa Perbandingan Fenotip F2 Mengikuti Pola Klasik 3:1

Perbandingan fenotip F2 dalam persilangan monohibrida mengikuti pola klasik 3:1 karena alel dominan (R) mengesampingkan alel resesif (r) dalam menentukan fenotip individu. Alel dominan mendominasi ekspresi alel resesif dan menyebabkan individu memiliki fenotip yang sesuai dengan alel dominan.

Dalam contoh warna bunga, alel dominan (R) untuk warna merah mendominasi alel resesif (r) untuk warna putih. Oleh karena itu, individu dengan genotipe RR dan Rr akan memiliki fenotip merah karena adanya alel dominan R.

Namun, individu dengan genotipe rr akan memiliki fenotip putih karena tidak ada alel dominan untuk warna merah. Oleh karena itu, perbandingan fenotip F2 menjadi 3 individu dengan fenotip merah (RR, Rr) dan 1 individu dengan fenotip putih (rr).

Section 7: Contoh Lain Persilangan Monohibrida

Selain warna bunga, ada banyak contoh persilangan monohibrida dalam genetika. Beberapa contoh lain termasuk:

  • Bentuk biji pada tanaman: Persilangan antara tanaman dengan biji bulat (BB) dan tanaman dengan biji keriput (bb) akan menghasilkan perbandingan fenotip F2 3:1 untuk bentuk biji.
  • Warna kulit pada manusia: Persilangan antara individu dengan kulit gelap (DD) dan individu dengan kulit terang (dd) akan menghasilkan perbandingan fenotip F2 3:1 untuk warna kulit.
  • Warna bulu pada hewan: Persilangan antara hewan dengan bulu hitam (BB) dan hewan dengan bulu putih (bb) akan menghasilkan perbandingan fenotip F2 3:1 untuk warna bulu.

Section 8: Kesimpulan

Dalam persilangan monohibrida, perbandingan fenotip F2 mengikuti pola klasik 3:1 karena alel dominan mendominasi ekspresi alel resesif. Fenotip F2 dapat diprediksi dengan menggunakan hukum segregasi dan hukum assortmen mandiri Mendel. Contoh-contoh persilangan monohibrida termasuk warna bunga, bentuk biji pada tanaman, warna kulit pada manusia, dan warna bulu pada hewan.





Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)